Perjalanan Siswa “Menantang” Maut

Oleh : Erwin Kusumah

[UNIKNYA.COM] Sobat unik, di sejumlah kota besar, sebagian orang tua dan anak-anak sekolah menganggap bahwa menyebrang jalan, mengejar bus sekolah hingga memberhentikan angkutan umum menjadi perjuangan paling berisiko. Berbeda halnya dengan perjuangan para siswa di salah satu sekolah di Desa Gengguan Cina. Setiap hari, para siswa harus melewati terjalnya jalan setapak di pinggir tebing buatan penduduk setempat. Meski Banpo (nama sekolah dasar) itu tak jauh dari desa tempat para siswa tinggal, namun risiko perjalanan menuju sekolah itu tidak bisa dianggap mudah.

Bagaimana tidak, setiap murid asal desa tersebut harus berjuang melawan kecepatan angin, tebing terjal dengan ukuran jalan setapak yang tak lebih dari setengah meter. Perjuangan itu belum selesai, terlebih mereka harus merapatkan badan ke tebing gunung ketika dari arah berlawanan ada pengguna jalan. Luar biasa!!.

Jalan setapak bekas slauran irigasi itu kini memasuki usia hampir 40 tahun. Sebetulnya masih ada jalur lain yang lebih nyaman ditempuh para siswa menuju Banpo, namun jarak tempuh yang harus dilewati memakan waktu 2 jam. Alhasil, ditemani Kepala Sekolah Xu Liangfan, sekitar 49 siswa setiap hari berangkat melalui jalur tersebut.

Sekolah (8)
Sekolah (9)

 

Tidak hanya di Cina, di Desa Batu Busuk, Padang Sumatera Barat sekitar 20 siswa harus bergelantungan menggunakan besi bekas jembatan ambruk melewati sungai dan berjalan 11 kilometer melalui hutan menuju sekolahnya.

Sekolah (13)

Sekolah (7)

 

Begitupun yang terjadi di Jawa Tengah, sejumlah siswa sekolah dasar bahkan harus berjalan menyusuri saluran air yang memisahkan Suro dan Desa Plempungan, Karanganyar, Boyolali. Kendati tidak diperuntukan sebagai jalan, namun sejumlah siswa lebih memilih jalur tersebut menuju sekolahnya ketimbang melewati jalur lainnya dengan jarak enam kilometer.

Sekolah (19)

Sekolah (20)

Sekolah (10)

 

Di Filipina, siswa sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Provinsi Rizal, di timur ibukota Manila, menggunakan ban dalam yang dipompa untuk menyebrangi sungai menuju sekolah. Bahkan mereka tak jarak bolos dan mengunjungi rumah kerabat jika tiba-tiba sungai banjir akibat guyuran hujan.

Sekolah (14)

Sekolah (15)

Sekolah (16)

Sekolah (17)

 

Siswa yang tak mampu membeli ban, biasanya membawa plastik besar yang dibuat gelembung sebagi pelampung sekaligus pelindung alat sekolah agar tidak basah. Puluhan siswa mulai kelas 1 hingga 5 itu setiap hari harus menyebrangi sungai dengan lebar 15 hingga 20 meter dua kali sehari. Satu kali menyebrang menuju sekolah di Trong Hoa Komune, Kabupaten Hoa Minh dan dan kembali menyebrang sepulang sekolah.

Sekolah (21)

 

Pegunungan Nepal, para siswa sekolah menggunakan jembatan gantungGondola sebagai alternatif jalan pintas menuju sekolah, peralatan yang digunakannya pun sangat sederhana dan tidak safety. Sebuah katrol dan papan kayu hasil modifikasi lengkap dengan tempat duduk menjadi teman perjalanan setiap harinya.  Faktor keamanan sangat tidak diperhatikan, bahkan sejumlah kecelakaan pun kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Beruntung sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang peduli, membangun jembatan dan membuatkan gondola untuk mengurangi kecelakaan.

Sekolah (18)

 

Lain halnya di Kolombia Amerika Selatan, para siswa sekolah yang tinggal di daerah hutan, 40 km di tenggara Ibukota Bogota, mereka pulang pergi menuju sekolah melalui kabel baja yang menghubungkan satu sisi lembah ke lembah lainnya. Kabel baja tersebut terbentang sepanjang 800 meter dan tergantung di atas ketinggian 400 meter.

Sekolah (11)

 

Akhirnya, ada satu photo yang di abadikan fotografer Reuter Ammar Awad tahun 2010. Di Kamp pengungsi Shuafat, selama bentrokan antara pasukan Israel dan Palestina, seorang gadis terlihat tenang berjalan menuju sekolah tanpa memperdulikan peperangan yang terjadi di sekelilingnya. Tidak hanya itu, gadis kecil itupun berjalan di tengah bebatuan sisa lemparan pengunjuk rasa ke arah pasukan Israel yang berserakan.

Sekolah (12)

 

Jadi masih mengeluh dengan fasilitas dan kemewahan yang kita punya ?

just think about it !”(**)

 

Sumber : www.amusingplanet.com, old.uniknya.com, Juni 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Exit Jangan Lupa Klik Like/Suka www.uniknya.com