5 Sosok yang Menjadi “Ikon” Bandung

Oleh: Jalaksana Winangoen

[UNIKNYA.COM]: Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Karenanya tak heran jika di Bandung, muncul sosok-sosok yang begitu fenomenal dalam memberikan warna tersendiri bagi Bandung. Sosok-sosok itu, bisa dibilang menjadi “ikon” tersendiri dalam perkembangan kota Bandung ke depannya. Berikut ini old.uniknya.com hadirkan sosok-sosok yang mungkin familiar di mata penghuni kota Bandung, silahkan disimak:

 

1. Sariban “Juru Slamat Lingkungan”

Bandung kini tak sesegar dulu lagi. Lingkungannya kian tercemari banyak sampah dan polusi. Untung saja masih ada yang peduli membersihkannya. Salah satunya adalah sosok relawan lingkungan bernama Sariban. Sariban setiap hari keliling kota Bandung membersihkan sampah dan mencabut paku, atas dasar keikhlasan mencintai Ibukota Parahiyangan itu. Sariban tinggal di kawasan Cikondang, Cikutra Barat Bandung.

 

[spoiler]

Sariban “Juru Slamat Lingkungan” (sumber: blogspot.com,old.uniknya.com)

[/spoiler]

 

Kepedulian dan kerelaaannya membersihkan sampah-sampah dan mencabuti paku selama 27 tahun membuahkan hasil. Dia banyak mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan lembaga. Tak heran, dia pun sampai kini dijuluki sebagai “Pejuang Kebersihan Kota Bandung.” Sariban yang pensiunan pegawai rumah sakit Cicendo Bandung ini, terlahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1943. Ia memang sudah puluhan tahun tinggal di Bandung. Jadi, dia merasakan betul perubahan lingkungan Kota Kembang itu.  Sejak hijrah dari Magetan ke Bandung pada tahun 1963, Sariban sempat menjadi tuna wisma. Dia hanya tinggal di Stasiun Kereta Bandung selama 3 bulan. Lantas ada orang yang mengajaknya bekerja sebagai kuli bangunan. Tahun 1967, Sariban menikah dan kemudian memiliki 4 anak dan 3 cucu. Setelah merampungkan sekolah di KKPA (Kursus Karyawan Perusahaan Tingkat Atas),Bandung, tahun 1972, Sariban diterima bekerja di Rumah Sakit Mata, Cicendo, Bandung sebagai tukang pembersih rumah sakit sampai tahun 2000. Sejak bekerja di sinilah kecintaan Sariban terhadap lingkungan kota Bandung semakin kuat. Menjelang pensiun, ia pun sudah aktif membersihkan sampah, mencabut paku dan tali bekas reklame di pohon-pohon secara sukarela. Aktivitas ini terus dilakukan sampai sekarang dalam usianya yang sudah renta.

 

2. Supeno Si “Braga Stone”

Braga Stone adalah nama panggilan seorang pengamen tunanetra bernama Supeno kelahiran Medan, Sumatera Utara yang pandai dalam memainkan lagu-lagu barat dengan memakai alat musik tradisional Sunda yakni kecapi pada sekitar tahun 1970-an atau 1980-an.

Kemampuannya dalam memainkan lagu-lagu top (saat itu) baik dalam maupun luar negeri sungguh tak dapat diragukan lagi apalagi kalau kita meminta di mainkan lagu dari Rolling Stone, The Beatles, Atau Deep Purple yang memang itu adalah Grup favoritnya. Kebiasaannya mangkal di salah satu sudut jalan Braga, Bandung bahkan sempat menjadi ikon jalan Braga pada waktu itu. Sehingga karena kepiawaiannya itu, lalu ia mendapatkan julukan sebagai “Braga Stone” dan pernah juga tampil dalam JakJazz sekitar tahun 1990-an

[spoiler]

Supeno Si “Braga Stone” (sumber: blogspot.com)

[/spoiler]

 

Nama Braga Stone ini berkibar hingga sekitar tahun 1990-an. Selain itu kabarnya Braga Stone ini sempat membuat beberapa album instrumen lewat permainan kecapinya bahkan sempat rekaman bareng Bimbo. Kini Braga Stone sudah tak ada lagi dijalan Braga. Entah kemana musisi tuna netra ini pergi. Konon gosipnya, Braga Stone sekarang ini main di Jakarta.

 

3. Slamet Sang “Polisi”

Anda yang biasa melintasi pertigaan Jalan Maskumambang-Martanegara pastilah mengenal sosok ini: berseragam putih layaknya petugas patroli keamanan sekolah dan membawa sebilah kayu. Tak kenal hujan dan terik matahari, sosok ini akan berdiri tegap mengatur lalu lintas. Pria ini sudah berada di sana dan mengatur lalu lintas dari tahun 1990-an. Kepada pengguna jalan yang tertib, dia kerap memberi hormat dan tersenyum manis. Namun terhadap pengemudi yang membandel, dia bisa galak. Sosok itu tak lain dan tak bukan bernama Slamet.

 

[spoiler]

Slamet Sang “Polisi” (sumber: blogspot.com)

[/spoiler]

 

Slamet adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Slamet lahir pada tanggal 23 Oktober 1971, Slamet sudah punya kelainan. Sampai umur 12 tahun, Slamet yang  bernama Matman. Sampai umur 12 tahun itu pula, Slamet suka mengeluarkan air liur dan tidak bisa bicara. Setelah sembuh dari sakit, namanya baru diganti menjadi Slamet. Aktivitasnya mengatur lalu lintas terjadi secara tidak disengaja. Saat berumur 15 tahun, Slamet sering melihat-lihat kendaraan lewat di perempatan Jalan Pelajar Pejuang ’45-Jalan Martanegara. Di tempat itu pula Slamet melihat polisi mengatur lalu lintas. Slamet kemudian menirunya dan mulai mengatur kendaraan. Pada tahun 2000-an Slamet pindah ke pertigaan Jalan Maskumambang–Jalan Martanegara.  Sejak Desember 2011, Slamet memang pindah ke Pekanbaru. Sejak itu pula, Slamet tak bisa lagi “bertugas”.

 

4. Ayi Beutik Si Panglima Viking

Buat anda orang Bandung, nama PERSIB dan Viking, tentunya begitu familiar. Setali tiga uang dengan  kedua nama tersebut, tak kalah tenar adalah sosok Ayi ”Beutik” Suparman. Ia adalah sosok yang memiliki kendali akan semua supporter PERSIB yang kerap disapa Bobotoh ini.

 

[spoiler]

Ayi Beutik Si Panglima Viking (sumber: blogspot.com,old.uniknya.com)

[/spoiler]

 

Salah satu pendiri Viking ini memiliki loyalitas yang sangat tinggi pada Persib. Hal ini terlihat dari dukungnnya di setiap pertandingan. Telah banyak pengorbanan yang telah ia berikan untuk Persib dan Viking, bukan hanya materi melainkan juga kepentingan pribadinya. Beberapa kali ia ditahan karena membela harga diri Persib yang akhirnya berbuah kerusuhan. Dirinya yang kontroversial ini membuatnya semakin disegani oleh supporter lawan.

Saking cintanya pada tim berjuluk Pangeran Biru ini, Ayi menamakan anak sulungnya dengan nama “Jayalah Persibku” yang kini baru berumur lima tahun. Ayi menikah pada saat umurnya 37 tahun. Dengan background sebagai pemanjat tebing dan kemampuannya dalam hal pemetaan, Ayi bekerja pada bagian pemetaan pada perusahaan konsultan asing. Ia merupakan lulusan Institut Tekhnologi Bandung jurusan Geodesi. Ia juga banyak tahu dan mengenal banyak tempat di Indonesia

 

5. Perry Tristianto Tedja “Raja FO”

Dibelakang puluhan FO yang pernah didirikan di luar Bandung (Surabaya, Makasar dan Bali), salah satu pemilik terbanyak adalah Perry Tristianto Tedja. Sang raja FO yang lahir 22 Februari 1960 di Bandung itu, menguasai hampir 70 % bisnis FO di Bandung, termasuk wisata kuliner yang kini giat dikembangkan. Kegiatan ini menggeliatkan wisata dan ekonomi Bandung, dan Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung pun bertambah secara significant.

[spoiler]

Perry Tristianto Tedja “Raja FO” (sumber: blogspot.com)

[/spoiler]

 

Bermodalkan pinjaman dari Bank Danamon pada 1995 sebesar Rp, 250 Juta, Perry mendirikan outlet busana sisa ekspor pada sebidang tanah 200 M2 di Graha Manggala Siliwangi dekat Stadion Siliwangi Bandung, tempat Persib Bandung biasa merumput. Pilihan nama outlet ketika itu membawa hoki hingga kini yakni “The Big Price Cut”. “Outlet itu diserbu pembeli, terutama orang Jakarta. Penjualan ketika itu bersistem bagi hasil dengan pemilik gedung. Motto outlet ditulis besar-besar diberbagai penjuru – We cut the price but not the quality. Motto ini saya comot begitu saja dari sejumlah buku…entah buku apa lupa tuh …” Menurut Perry, selain harga dan kualitas terjaga ketika itu, kemungkinan akibat sensasi tulisan berbahasa Inggris yang ketika pada jaman orde baru sempat dilarang keras. Bagi Perry periode ini merupakan tonggak penting kehadiran ratusan FO yang kini dikelolanya.

Perry yang dalam tiga tahun terakhir menyempatkan diri membagi ilmu sebagai pengajar di UNPAD, dari latar belakang kuliah yang dia miliki Stanford College Singapore (1984) jururan Administrasi Bisnis ini setelah kuliah di UNPAR (Universitas Parahyangan – Bandung) yang ditingalkannya pada tingkat 2, dan tentunya pengalaman bisnis FO  yang digelutinya.(**)

 

Sumber: Dari berbagai sumber, old.uniknya.com, Maret 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Exit Jangan Lupa Klik Like/Suka www.uniknya.com